dilupakan

Ada orang-orang yang sudah tahu sejak mula; ia datang dan akan dilupakan. Berjalannya waktu adalah pusara bagi kenangan yang berkelindan. Sekali waktu ia yakin, sisanya ia tahu diri. Barangkali tiada jalan lain untuk berdiam dan menyasapi takdir.

“Tugasmu sudah selesai. Bahkan kau tahu itu bukanlah tugasmu. Cukup melihat dari kejauhan dan tak perlu berbuat apa-apa.”

Ia tiada membuat waadat. Ia sepenuhnya bebas dari segala belenggu. Tiada yang perlu dirisaukan, tiada yang perlu digulatkan.

Iklan

Danke, Mr. Wembley!

babadesain

Robben memulai debutnya di Bayern Munchen tahun 2009. Kariernya sempat terlihat cemerlang ketika membela PSV Eindhoven dan kemudian direkrut Chelsea. Madrid pun akhirnya kepincut dan memboyongnya ke Santiago Benabeu. Di Madrid, penampilan Robben malah kurang memuaskan. Perlahan sinarnya redup di antara bintang lainnya di Madrid seperti Ruud van Nistelroy dan Gonzalo Higuain. Bayern-lah pelarian Robben saat itu.

Tidak bisa dimungkiri bahwa awalnya Robben skeptis dengan kepindahannya ke Bayern. “Ketika itu [saat pindah dari Madrid ke Bayern], rasanya seperti sebuah kemunduran,” kata Robben beberapa tahun setelah kepindahannya. “Itu adalah keputusan yang sulit. Real Madrid adalah salah satu tim terbesar di dunia. Kepindahan ini akhirnya berjalan baik. Saya juga banyak dibantu oleh Louis van Gaal. Berkarier di Bayern menjadi periode terbaik dalam karier saya,” jelasnya. (sumber: goal.com)

Namun yang terjadi kemudian adalah, karier Robben di Bayern mencapai puncaknya. Ia sukses di Bayern. Memenangkan 7 gelar Bundesliga dan tentu saja meraih gelar prestisius: Liga Champions pada tahun 2013.

Mr. Runner Up

Sebelum melakoni laga final Liga Champions 2013 bertajuk Der Klassiker melawan Dortmund, Bayern (dan Robben) dihantui dengan statistik yang tidak mengenakkan. Bayern gagal dua kali dalam dua final Liga Champions terakhirnya: 2010 kalah dari Inter; dan 2012 kalah dari Chelsea di Allianz Arena, kandang Bayern. Hal itu membuat Bayern dijuluki dengan tim spesialis runner-up. Kekalahan ketiga tentu akan sangat menyakitkan. Itu artinya treeble runner-up.

Sementara itu, Robben juga mengalami hal yang sama. Selain kalah dalam dua final bersama Bayern, Robben juga gagal membawa Belanda menjadi juara piala dunia 2010. Barangkali kita masih ingat ketika itu Robben berpeluang membawa Belanda unggul saat ia hanya berhadapan one on one dengan Casillas. Dan Robben gagal. Ia menyia-nyiakan peluang terbaik sepanjang masa Belanda. Karenanya, Robben juga mendapat julukan sebagai Mr. Runner-up.

Untunglah dalam laga final Liga Champions 2013 yang berlangsung di Wembley, Inggris, itu Bayern berhasil mengalahkan Dortmund. Laga dramatis yang tidak akan pernah dilupakan suporter Bayern. Robben tampil sebagai pemain terbaik dengan satu asis dan gol last-minutes penentu kemenangan. Dari selebrasi Robben ketika itu, dapat dilihat betapa bahagianya ia, mengentaskan kutukan sebagai Mr. Runner-up.  Sejak saat itu Robben mendapat nama baru: Mr. Wembley.

Kini, setelah hampir 10 tahun di Bayern, Robben memutuskan untuk cukup. Usianya sudah di angka 35. Sudah waktunya juga bagi Bayern untuk meregenerasi skuat. Selama di Bayern, Robben telah tampil sebanyak 305 kali, mencetak 143 gol dan 101 asis. Angka itu masih akan bertambah hingga akhir musim nanti.

Dengan sederet trofi, cerita, kisah, dan loyalitas, mari kita ucapkan terima kasih untuknya. Danke, Mr. Wembley!

Dengarlah Nyanyian Angin–Haruki Murakami

dengarlah nyanyian angin

Dengarlah Nyanyian Angin merupakan novel pertama Haruki Murakami sekaligus diganjar penghargaan Gunzo Literary Award tahun 1979. Dalam blurb dijelaskan bahwa novel ini bercerita tentang anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960 hingga 1970-an. Murakami menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tak memiliki bayangan ideal tentang masa depan.

Tokoh aku menjalani kehidupan dengan sederhana cenderung membosankan. Tidak punya permasalahan yang kompleks dan menanggapi segala persoalan dengan santai. Aku tidak punya teman dekat sebelum bertemu Nezumi. Mereka bertemu secara tidak sengaja dalam keadaan mabuk, kemudian hari-hari mereka dihabiskan dengan minum-minum di Jay’s Bar. Meski Nezumi lahir dan besar di keluarga yang kaya, Nezumi sangat membenci orang kaya.

“Kukatakan dengan tegas ya, aku membenci orang kaya karena mereka tidak memikirkan apapun…. Mereka tidak pernah memikirkan hal yang penting. Mereka hanya pura-pura mikir…. Untuk menjadi kaya, orang memang perlu memakai otaknya sedikit, tapi untuk terus menjadi kaya, orang tidak memerlukan apapun.”

Setelah Nezumi, aku bertemu–juga secara tidak sengaja–dengan seorang gadis yang tangan kirinya berjari empat. Mereka semakin akrab ketika si gadis merasa bahwa aku adalah orang yang tepat untuk berbagi cerita yang selama hidupnya dipendam.

Murakami terampil dalam menceritakan hal-hal sederhana yang menggigit, kelam, dan menyentil emosi kesedihan. Menyelami tokoh aku membuat saya merasa bahwa mimpi bukanlah hal yang terlampau silau untuk dibangga dan perjuangkan. Murakami mengingatkan saya untuk kembali pada realitas. “Karena yang disebut mimpi akhirnya hanya seperti itulah adanya.”

Dengarlah Nyanyian Angin yang hanya 119 halaman. Termasuk novel tipis yang bisa diselesaikan dalam sekali waktu. Tepat sebagai suguhan bacaan saat dalam perjalanan.

Cinta Tak Ada Mati–Eka Kurniawan

cinta tak ada mati

Membaca karya-karya Eka Kurniawan hampir selalu membuat saya terkejut. Sudah lazim bagi saya–ketika sedang membaca–menebak-nebak alur dan akhir cerita. Pun ketika membaca karya Eka. Namun sekalipun saya sudah tahu watak Eka yang suka memberi kejutan-kejutan, tetap saja saya masih terkejut. Keparat lihai memang.

Eka pandai pula dan sudah terbiasa memakai diksi yang tidak lazim. Sebagai pembaca, saya sangat menikmati itu. Saya kagum pada penulis-penulis yang mampu mengeluarkan diksi-diksi yang langka, kombinasi kata yang menarik tapi mampu diterapkan secara pas di dalam kalimat. Misalnya dalam salah satu kumpulan cerita ini, Eka berkali-kali memakai kata “keparat”. Sesekali divariasikan menjadi “bijak keparat” atau “sabar keparat”. Ini adalah hal kecil tetapi cukup brilian untuk membuat pembaca macam saya terkesima.

Kumpulan cerita Cinta Tak Ada Mati ini merupakan cerita yang diterbitkan ulang dari judul yang sama tahun 2003. Ada tambahan tiga cerita baru. Dengan desain sampul baru karya Eko Nugroho, seniman asal Jogja, buku ini terlihat lebih bergairah untuk dimiliki.

Karena terbit atau ditulis tahun 2003 itulah saya menemukan banyak persamaan dengan novel Eka berjudul Lelaki Harimau, baik dalam segi alur maupun karakter. Eka piawai ketika menuliskan cerita yang berlatar kampung, tradisi, musala, dan klenik-klenik di dalamnya. Ia fasih bercerita dari satu adegan ke adegan lain yang sebenarnya biasa tapi dibikin tak lazim. Dalam salah satu cerita misalnya, seseorang sedang berteduh di musala karena hujan, ia di antara kebimbangan untuk masuk ke musala untuk salat atau tidak. Hatinya bergejolak talik-ulur. Eka menceritakan itu dengan apik tanpa jeda. Sederhana, tapi Eka berhasil membuatnya menjadi genting.

Cinta Tak Ada Mati berisi tiga belas cerita. Tentu yang paling menarik adalah yang berjudul “Cinta Tak Ada Mati”. Kau tak akan pernah menduga bagaimana akhirnya, serius. Selain itu juga ada yang berjudul “Pengakoean Seorang Pemadat Indis” yang ditulis dengan ejaan lama sehingga perlu hati-hati ketika membacanya. Salah satu yang menarik lagi adalah cerita berjudul “Bau Busuk”. Dalam cerita itu, pembaca tidak akan menemukan satu pun tanda baca titik.

 

Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya — Raka Ibrahim

bagaimana tuhan menciptakan cahaya

Pertama, saya terkesan dengan judulnya. Saya kira ini kumpulan esai filsafat, tetapi ternyata ini sebuah kumpulan cerita. Saya suka judulnya. Kedua, ternyata bukunya kecil, hanya 11,5 x 17,5 cm. Lebih enak di bawa-bawa memang.

Raka Ibrahim, dalam biografinya disebut sebagai jurnalis. Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya adalah karya fiksi pertamanya. Sebagai karya pertama, bisa sedikit dimaklumi: saya tidak terkesan. Saya membaca tiga tulisan pertama dan tak bisa memahami apalagi menikmati. Saya tidak mendapat apa yang hendak diceritakan Raka. Lalu saya coba lompat ke tulisan yang berjudul sama dengan judul buku. Siapa tahu di situlah tulisan Raka lebih bagus, pikirku. Namun sama saja hasilnya.

“Saya tetap rakus meskipun dalam naskah fiksi, ya?”

Itu adalah salah satu kalimat di cerita berjudul “Dongen Setelah Tidur”. Mungkin Raka ingin menghadirkan dirinya yang nyata kepada pembaca, atau mengajak pembaca untuk berinteraksi. Saya mengira malah itu teknik bercerita Raka. Namun sekali lagi, menurut saya ia gagal. Tanggung, malah lebih mirip tulisan diary.

Beberapa cerita, Raka menghadirkan tokoh-tokoh yang jauh dari pemahaman pembaca. Maksudnya, ia menceritakan seorang tokoh dengan fasih, tapi pembaca harus berpikir dua atau tiga kali untuk memahami tokoh itu. Tetapi kemudian tokoh itu tak begitu berguna di dalam cerita. Raka menulis berdasarkan pengetahuan yang ada di pikirannya tanpa menyaringnya dulu. Hal ini yang membuat saya sebagai pembaca merasa apa yang diceritakan Raka tidak begitu menarik, seperti pengalaman pribadi.

Anak Bajang Menggiring Angin — Sindhunata

“Bahwa pengetahuan itu justru ketidaktahuan, dan bahwa pengetahuan itu bukan untuk menguasai, tapi untuk pasrah.”

Meski sudah familiar dengan kisah Ramayana, saya masih terpesona dengan novel ini. Sindhunata atau juga sering disapa dengan Romo Sindhu, piawai dalam menuliskan saga fenomenal ini. Bagaimana pun, menulis suatu cerita yang sudah banyak diketahui (ending-nya) oleh pembaca sangatlah susah. Dan Romo Sindhu dapat mengatasi itu.

Anak Bajang Menggiring Angin adalah novel tentang kehidupan, ketulusan, dan cinta. Menceritakan dengan apik segala penderitaan. Pertama kali terbit tahun 1983, penceritaan novel masih mengikuti gaya lama yang mendayu-dayu penuh dengan metafora dan personifikasi. Kata-kata indah berserakan sepanjang novel.

Di luar teknik bercerita yang sangat anggun, interpretasi tentang sebuah penderitaan juga dijabarkan dengan apik.

“… dalam penderitaan, sering orang tergoda oleh kerinduan akan bayang-bayang kebahagiaan, padahal kebahagiaan sejati ada dalam penderitaan kita sendiri. Dan dalam kesunyian di mana kita sudah diasingkan dalam keramaian ikhwal dunia dengan segala godaannya, bisa saja muncul keramaian yang kita ciptakan dari hati kita sendiri. Keramaian macam itu adalah angan-angan bohong, Kakakku, karena justru pada saat sunyi macam inilah kita seharusnya mengalami hakikat kita yang sejati.”

Begitulah pesan Laksmana kepada Rama ketika menderita kerinduan pada Shinta yang hilang diculik Rahwana.

Novel ini mengajak pembaca untuk bersahabat dengan penderitaan dan kesunyian. Penderitaan akan selalu ada. Manusia hidup tidak bisa menghindari apa yang namanya penderitaan. Ia yang bisa menikmati penderitaan itulah yang disebut kebahagiaan.

Dalam sebuah perbincangan dengan seorang teman, ia berpendapat bahawa kebahagiaan itu semu. Kebahagiaan belum tentu berbanding lurus dengan kebaikan. Kebahagiaan yang dicapai dengan menuruti ego, itulah kebahagiaan yang semu, karena sesungguhnya itu kebahagiaan sesaat. Dan barangkali kebahagiaan yang dicapai itu malah mengorbankan kebahagiaan orang lain.

Manusia pada dasarnya ingin melakukan hal-hal baik. Namun sebaik apa dan untuk siapa kebaikan itu? Ada manusia yang sudah menyombongkan diri meski hanya melakukan satu kebaikan. Ada pula manusia yang merasa menjadi manusia yang tidak baik meski telah melakukan banyak kebaikan. Merekalah manusia yang senantiasa merendahkan diri, menyadari bahwa kebaikan bukan berasal dari dirinya sendiri.

“Kebaikan itu bukan pahala perbuatan manusia, Rama. Kebaikan itu bahkan sudah ada, sebelum manusia mampu mengadakannya. Kebaikan itu bukan suatu peristiwa, kebaikan itu hanya ingin menjelma di dunia, Rama. Ia adalah dorongan-dorongan hati yang tak henti-hentinya ingin mewujudkan diri keluar. Sering manusia justru menghalanginya karena kejahatannya.

… Jadi  kau jangan bermegah atau sombong kalau kau merasa telah melakukan perbuatan baik, kau hanyalah jalan dan kesempatan bagi kebaikan itu untuk menjelma,” pesan Resi Yogiswara kepada Rama.

anak bajang menggiring angin

Kita Tidak Pantas Masuk Surga, Sungguh!

menuju hati yang selesai

“Kita sesungguhnya tidak pantas masuk surga: saya, juga Anda, kita semua.”

Itu adalah kalimat pertama pada tulisan pertama–dari 29 tulisan–dalam buku ini: Menuju Hati yang Selesai. Kalimat pembuka dalam buku karya Doni Febriando ini langsung mengajak pembaca untuk merendahkan diri.

Kita tidak pantas masuk surga. Serius. Jangan besar kepala surga ada di depan mata kita, sekalipun kita rajin ibadah.

Bila sudah begitu, saya selalu ingat nasihat Cak Nun. Beliau juga bilang bahwa kita sebagai manusia awam tidak bisa diandalkan (ibadahnya) di hadapan Allah. Yang bisa diandalkan adalah Rasulullah. Maka cara kita supaya diterima Allah adalah gondelan klambine Kanjeng Nabi (mengikuti dan mencintai Nabi Muhammad).

Nabi Muhammad sangat mencintai kita, umatnya. Bahkan Rasulullah begitu mengkhawatirkan nasib kita yang hidup jauh dari masa hidup beliau. Hingga beliau wafat, kita selalu ada dalam doanya.

Allah menjamin Rasulullah masuk surga. Rasulullah tahu itu. Lalu mengapa Rasulullah masih repot-repot beribadah dan menyayangi orang lain? Karena beliau dilahirkan sebagai rahmat bagi alam semesta.

Rasulullah melakukan itu semua sebagai sebuah teladan, supaya ditiru dan dijadikan batu pijakan oleh umatnya. Rasulullah sesungguhnya tidak perlu salat tahajud, misalnya, tapi mengapa beliau lakukan itu? Mungkin salah satunya (menurut saya) supaya itu menjadi bekal untuk umatnya. Bayangkan kalau beliau tidak pernah salah tahajut, mungkin saat ini salat tahajut tidak pernah ada dan bukanlah menjadi amalan salat sunah paling utama.

Rasulullah yang dijamin masuk surga saja, begitu rajin beribadah dan mendoakan orang lain. Lha apalagi kita yang bahkan tidak pantas masuk surga?

Maka, semoga kita senantiasa berendah diri, berislam sebaik-baiknya dan meneladani Rasulullah dengan penuh kasih sayang.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Jerman yang Gagal Memalukan, (Sebuah Catatan)

5552787

Puncak generasi emas Jerman sudah habis di 2014, yang digenapkan dengan menjadi juara dunia sepak bola. Di Brasil 2014 itu, tim Jerman tak terbendung sepanjang perjalanannya. Kemenangan demi kemenangan diraih dengan meyakinkan: mengalahkan Prancis, mempermalukan Brasil, dan mempecundangi Argentina di final. Setelah menjadi kampiun, sang kapten Philipp Lahm pensiun diikuti bek veteran Per Mertesacker.

Jerman mengarungi Piala Eropa 2016 masih dengan sisa-sisa skuat Piala Dunia 2014 di bawah pelatih Joachim Loew. Pemain andalan macam Neuer, Boateng, Hummels, Schweinsteiger, Oezil, Khedira, hingga Podolski masih mewarnai Die Mannschaft di Prancis. Sayang, perjalanan Jerman terhenti oleh tim tuan rumah.

Kegagalan Jerman di Piala Dunia 2018 Rusia sebenarnya sudah terlihat sejak tim ini tampil di Piala Eropa 2016. Performa Jerman menurun, itu jelas. Schweinsteiger dkk. sudah habis, motivasinya tidak menunjukkan sebagai Der Panser. Akhirnya Schweinsteiger dan Podolski memutuskan pensiun setelah Piala Eropa. Dari sini, Jerman harus mulai membibit kembali pemain-pemain muda.

Sepanjang perjalanan kualifikasi Piala Dunia 2018, Jerman tampil meyakinkan dengan skuat muda. Jerman sering membangkucadangkan pemain-pemain senior. Hasil dari pemain-pemain muda itu dinikmati ketika Jerman memenangkan Piala Konfederasi 2017. Hasil gemilang itu membuat Jerman yakin dapat mengulangi sukses 2014. Sebagai tim nomor satu dunia sekaligus juara bertahan, Jerman pantas diunggulkan.

Namun yang terjadi di Rusia adalah sebaliknya. Pada laga pembuka, Jerman dikalahkan Meksiko. Pada pertandingan terakhir grup, Jerman dipecundangi Korea Selatan. Ironi. Tragis. Tidak bisa dipercaya. Jerman gagal lolos dan menjadi juru kunci grup. Jerman yang diperkuat pemain bintang kelas dunia harus pulang memalukan.

Apa yang salah? Sejak pertandingan pertama melawan Meksiko, sudah tampak betapa permainan Jerman tidak seperti Jerman 2014. Permainan lambat, minim peluang, dan pertahanan kacau. Lini tengah tidak bisa mengontrol permainan. Loew yang masih mempercayakan pemain senior seperti Oezil, Khedira, dan Kroos di lini tengah, tampak kebingungan. Lini depan yang diisi wajah baru Reus dan Werner, tidak efektif. Kimmich yang menggantikan posisi Lahm, tampak tidak siap tiap kali Jerman diserang lawan. Akibatnya, Boateng dan Hummels kewalahan.

Gagal di pertandingan pertama, Jerman mampu meraih kemenangan di pertandingan kedua melawan Swedia. Meski menang, permainan Jerman tidak bisa disebut sudah bagus. Kemenangan itu diraih di menit terakhir tambahan waktu. Sebuah drama keberuntungan.

Pertandingan penentuan malah menjadi anti-klimaks. Jerman yang harus menang seperti berleha-leha sepanjang laga. Korsel berhasil memanfaatkan “kemalasan” pemain Jerman ini dengan mencuri dua gol di menit terakhir. Jerman pulang membawa segenap penyesalan bagi tim, bagi negara, dan bagi suporter di seluruh dunia.

Bila dilihat dari tiga pertandingan itu, bisa dikatakan Loew sudah habis. Loew tidak bisa mengembangkan permainan Jerman, jangankan dari menit ke menit, bahkan dari laga ke laga. Seharusnya Loew bisa membuat Jerman tampil lebih baik pada laga kedua, tapi ia gagal. Loew masih punya kesempatan pada laga ketiga, tapi juga gagal. Permainan Jerman sama sejak awal pertandingan, tidak berkembang. Yang lebih disayangkan adalah permainan Jerman benar-benar membosankan.

Jerman punya pemain seperti Reus, Draxler, dan Werner yang memiliki kemampuan lari dan dribble bagus, tapi Loew tak memanfaatkan ini. Tak ada pemain Jerman yang mencolok secara individu padahal Jerman punya potensi itu dan bisa dicoba ketika mengalami kebuntuan serangan secara kolektif. Loew memang membawa dan memainkan Gomez, tapi asupan umpan lambung dari sayap sangat minim. Kimmich lebih sering memberi bola datar ke tengah alih-alih langsung mengirim bola lambung ke Gomez. Dia juga terlalu lama menggocek bola dan umpannya sering berhasil di-block.

Oezil jelas menjadi pemain yang paling pantas dikritik. Ia seperti bermain tanpa motivasi, pergerakan sangat lambat dan hanya mengandalkan umpan akurat. Ketika pertahanan lawan rapat, dia kesulitan memaksimalkan “mata elang”-nya. Dia seharusnya pensiun dari timnas Jerman. Sementara Kroos yang dielu-elukan atas gol last minute-nya, tampil tidak dalam performa terbaiknya. Dalam formasi Loew, ia diplot lebih ke belakang. Ia terkunci dan tak bisa berkreasi mengatur serangan. Malah ia sering membuat kesalahan, salah satunya kesalahan fatalnya yang berujung gol.

Jerman harus berbenah. Jerman harus berani memainkan pemain-pemain muda. Memberi mereka jam bermain lebih banyak. Banyak potensi pemain muda di Jerman: Ter Stegen, Sule, Goretzka, Sane. Masih ada harapan, setidaknya kelak Piala Dunia 2022 di Qatar, Jerman lebih siap.

 

Sebelum Mei Berakhir, Izinkan Kuceritakan Sebuah Ingatan Tentangmu.

ngaji bareng ibuk-01

Sudah hampir delapan tahun ini, pertemuanku denganmu bisa dihitung jari. Padahal sebelumnya, tujuh belas tahun lebih kupandangi wajahmu saban hari. Mungkin itulah sebabnya mengapa waktu yang tujuh belas tahun itu aku seperti tak merasakan kerinduan kepadamu. Dan kerinduan itu kemudian menumpuk dan semakin menumpuk dengan cepat setelahnya.

Kerinduan itu membawaku pada ingatan-ingatan yang telah lalu. Pada dosa-dosa masa kecilku yang belum tahu rasa bersyukurnya memilikimu. Di tengah hidupku saat ini yang tak berada di sisimu, mengingat hal-hal itu selalu membuatku meneteskan airmata. Aku kembali menjadi bocah yang ingin kaupeluk saat kesakitan dan kaujewer saat nakal.

Ingatkah kau ketika sehabis aku kecelakaan yang mengakibatkan absen beberapa minggu di sekolah madrasah (ngaji), dan aku bersikeras ingin berhenti? Aku duduk di kelas empat. Setelah lama tak ikut pelajaran dan tak bertemu teman-teman, aku jadi malas berangkat ngaji. Ketika itu aku benar-benar tak memiliki nyali untuk masuk ngaji lagi.  Namun kau bersikeras aku harus melanjutkan ngajiku, jangan berhenti! Hari pertama masuk, aku menangis, takut, dan malu dilihat teman-teman. Kau menemaniku, di depan pintu kelas, menungguiku hingga selesai. Dan itu kaulakukan berhari-hari sampai aku cukup berani kautinggalkan. Tahukah kau perasaanku ketika itu? Aku benci kepadamu. Kaumemaksaku tetap masuk dan melanjutkan ngajiku hingga menungguiku. Sebagai anak kelas empat, aku cukup malu karena masih ditunggui di kelas.

Ingatan-ingatan itu kembali kepadaku tiap kali aku merindukanmu. Orang macam apa aku ini bisa sejahat itu? Walau kemudian pada akhirnya aku sadar apa dan segala yang kaulakukan itu tiada lain adalah untukku.

Aku selalu ingat kisah ketika kaumengajakku ke pengajian tiap Kamis malam. Kaumengayuh sepeda dan aku duduk membonceng di belakang. Karena boncengan sepeda bahannya besi dan jalanan terjal, kauselalu menyelipkan bantal di atas pantatku agar tak kesakitan. Kauselalu membujukku untuk ikut, tak peduli sampai di sana aku akan langsung tidur dan bangun ketika hendak pulang tengah malam. Di sepanjang perjalanan pulang dan kegelapan, kau ikat tubuhku ke tubuhmu supaya aku tak terjatuh ketika terkantuk. Betapa cintanya kau kepadaku.

Di umur kita yang semakin menua, ingatan-ingatan seperti itu akan semakin menguat sekaligus merontokkan kesedihan, betapa aku ingin kembali ke masa itu.

Setiap anak memiliki kisahnya sendiri. Ada yang beruntung dan ada yang belum diberi kesempatan beruntung. Dan aku ingin selalu menceritakan betapa aku beruntung memilikimu dan kaumiliki sejak pertama bersitatap, hingga kelak semoga Tuhan menjaga keabadian kita di surga-Nya.
Selamat ulang tahun, Ibuk.

Laut Bercerita — Leila S. Chudori

laut bercerita

Novel pertama karya Leila S. Chudori yang saya baca adalah Pulang, novel debut Leila yang langsung diganjar penghargaan Khatulistiwa Literary Award (sekarang bernama Kusala Sastra Khatulistiwa) pada 2013. Dari situ saya yakin, novel-novel Leila selanjutnya akan memiliki standar yang tinggi.

Laut Bercerita adalah novel kedua yang saya baca. Novel ini langsung cetak ulang dalam tempo yang singkat. Tampaknya memang pembaca tulisan-tulisan Leila sudah menanti terbitnya novel ini.

Pulang dan Laut Bercerita secara garis besar memiliki kesamaan isu. Pulang mengambil isu peristiwa tahun 1965, lebih spesifiknya tentang pelarian seorang–yang dicap Komunis–ke negeri orang. Tidak bisa pulang. Selalu diawasi gerak-geriknya. Sementara Laut Bercerita menceritakan salah satu babak penting bangsa ini: tumbangnya rezim Soeharto dan terjadinya Reformasi. Leila memilih bercerita tentang hilangnya beberapa aktivis mahasiswa yang menuntut dilaksanakannya Reformasi.

Tidak mudah menulis sebuah cerita dengan ending diletakkan di awal cerita. Ketika pertama membaca bahwa tokoh utama Biru Laut mati, saya agak pesimistis Leila akan bercerita dengan lancar. Singkat saya, Leila mau bercerita apa pun, saya sudah tahu akhirnya: Biru Laut mati. Sebelum membaca Laut Bercerita, saya baru saja merampungkan Silence karya Shusaku Endo. Dalam Silence itu saya juga ditawarkan sebuah akhir yang ditaruh di depan. Saya tidak bisa membacanya dengan nyenyak karena sudah tahu bagaimana akhir ceritanya. Dari Silence itulah saya merasakan pesimistis Laut Bercerita akan tetap menarik dibaca.

Halaman demi halaman yang saya baca ternyata melahirkan imajinasi yang hidup. Meski Biru Laut kelak akan mati, ia hidup seolah tak akan mati. Leila membuat karakter Biru Laut tak “bermain sendiri”. Leila tidak menggali emosi personal Biru Laut begitu dalam dan luas, tapi ia menciptakan karakter Biru Laut dengan keluarga, persahabatan, dan perjuangan. Dari situlah Biru Laut hidup. Tokoh-tokoh seperjuangan Biru Laut itulah yang menciptakan mengapa Biru Laut akan terus hidup dan bisa digali karakternya.

Persamaan Pulang dan Laut Bercerita adalah bagaimana Leila selalu bercerita dengan lompatan waktu. Leila selalu melompat dari satu babak/masa ke babak lain. Ini tentu teknik yang sulit, tetapi Leila memang sudah tahu betul bagaimana mengatasinya. Kelebihan lain dalam novel-novel Leila adalah ia menguasai isu. Sebagai seorang mantan wartawan, ia punya data dan jaringan untuk riset dalam penulisan “novel serius” seperti ini.

Membaca Laut Bercerita, imajinasi saya langsung hidup ke tahun 1998. Meski saya tak (ingat) mengalami secara langsung, melalui novel ini saya bisa mengerti bahwa Reformasi tidak akan terjadi tanpa mereka yang tewas dibunuh, yang hilang tak pernah pulang. Novel ini selalu mengingatkan betapa pentingnya kita menghargai mereka dan berterima kasih. Saya membayangkan Gala Pranaya sebagai Wiji Thukul, seorang penyair yang menginspirasi perjuangan Biru Laut, hilang. Lalu Budiman Sudjatmiko sebagai Bram yang memakai kacamata dan kutu buku, tidak ada wajah-wajah aktivisnya. Sebuah novel yang menghidupkan ingatan!