Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit — Rusdi Mathari

“Jangan pernah sakit. teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.”

Buku kecil ini membawa perasaan yang berbeda dari buku lain. Bagaimana tidak, Cak Rusdi seperti menceritakan sendiri detik-detik kematiannya. Perasaan sedih, miris, empati bercampur dengan harapan–meski tahu harapan Cak Rusdi kembali dari rumah sakit dalam keadaan sehat tidaklah mungkin. Saya tahu, pembaca tahu, inilah karya terakhir warisan Cak Rusdi, yang ditulis dalam keadaan menjemput takdir.

Ketika Cak Rusdi masih sehat dan rajin menulis, saya selalu mengikuti tulisan-tulisannya di Facebook. Saya ingat betul setiap Selasa Cak Rusdi menulis segala hal tentang bahasa. Ia menyebutnya Selasa Bahasa. Saya selalu menantikan itu.

Cak Rusdi selalu menulis dengan jujur. Ia menguatkan unsur kejujuran itu bersamaan dengan arumentasi yang logis. Sederhana, tetapi mengena.

Membaca dari satu tulisan ke tulisan lain di buku kecil ini membuat hatiku getir. Cak Rusdi yang saya tahu kuat, mandiri, dan berani, akhirnya mengalah juga pada takdir; kesakitan dan turunannya. Ia mesti mengalah ketika seorang dokter berkata padanya, “Elu pengin mati?”. Dua kali Rusdi menerima jawaban itu ketika bertanya tentang tumornya.

Di tengah hidupnya yang tak berdaya, Cak Rusdi masih menyempatkan untuk menulis. Ia tidak bisa tidak menulis. Ketika tak bisa menulis di depan laptop dengan duduk, ia mengetik dengan ponsel. Ketika jari-jarinya sudah tidak mampu digerakkan secara layak, ia hanya menggunakan jempolnya. Bahkan ketika ia benar-benar tak sanggup, ia minta ceritanya dituliskan orang lain.

“Saya harus mengetik, harus bertahan dan hidup.”

Iklan

Jenggot Kambing Agus Salim

Masih ingat ketika Rocky Gerung—intelektual filsafat yang suka mendungu-dungukan orang—bilang bahwa jenggot Haji Agus Salim seperti jenggot kambing?

Sepertinya Rocky tidak ngasal bilang begitu. Ada cerita menarik yang berkaitan dengan omongan Rocky itu dalam buku Agus Salim: Diplomat Jenaka Penopang Republik terbitan Kepustakaan Populer Gramedia hasil investigasi majalah Tempo.

Sebutan jenggot kambing yang dikatakan Rocky itu sebelumnya adalah ejekan Muso kepada Agus Salim (yang berjenggot) dan H.O.S. Tjokroaminoto (yang berkumis). Dalam pertemuan Sarekat Islam, Muso dari atas podium bertanya kepada hadirin,
“Orang berjenggot itu seperti apa, Saudara?”
“Kambing!” jawab hadirin.

Muso bertanya lagi,
“Orang yang berkumis itu seperti apa, Saudara?”
“Kucing!” jawab hadirin.

Barangkali itulah dasar Rocky menyebut jenggot Agus Salim seperti jenggot kambing. Namun Rocky tidak secara utuh menyinggung hal itu. Ada yang terlewat.

Dalam pertemuan Sarekat Islam itu, Agus Salim mendapat giliran naik podium.
“Tadi kurang lengkap, Saudara,” kata Agus Salim.
“Yang tidak berkumis dan tidak berjenggot itu seperti apa?”
“Anjing!” jawab hadirin sekalian.

Sabtu Lalu Bersamu

Coba kaujawab, adakah sebuah perpisahan membawa rasa senang?

Bertahun mengenalmu hanya segelintir melahirkan pertemuan. Dari segelintir itu, hanya satu yang paling kukenang; Sabtu lalu bersamamu.

Bertahun menaruh hati padamu hanya sekilas-kilas nyala harapanku. Dari sekilas itu, hanya satu yang paling benderang; Sabtu lalu bersamamu.

Bertahun mengejarmu hanya melahirkan deretan kelelahan. Dari deretan itu, hanya satu yang melegakan; Sabtu lalu bersamamu

Biar aku yang menjawab pertanyaanku sendiri; Sabtu lalu bersamamu adalah perpisahan yang membawaku dalam kebahagiaan yang tak terduga-duga.

Melacak Wiji Thukul

“Kemerdekaan itu nasi, dimakan menjadi tai.”

Begitulah dialog yang diucapkan Gunawan Maryanto ketika memerankan Wiji Thukul dalam film “Istirahatlah Kata-Kata”.

Wiji Widodo, nama sebenarnya dari Wiji Thukul, hingga saat ini tidak ada kabar, tentang keberadaannya, tentang hidup atau matinya. Ia hilang. Buku saku Tempo ini merupakan sebuah usaha untuk mencari keberadaannya.

Tempo melacak Thukul ke tempat-tempat yang pernah di singgahinya; Solo, Jakarta, hingga Kalimantan. Ada yang menduga Thukul menyamar sebagai koster di sebuah seminari, bahkan diselundupkan ke gereja di Filipina. Ada juga kabar Thukul pernah terlihat di Depok pada 2006. Namun tak ada yang benar-benar tahu di mana Thukul berada. Ada pula yang meramal bahwa Thukul akan muncul 30 tahun setelah hilang.

Nama Wiji Thukul ditabalkan oleh Cempe Lawu Warta, anggota Bengkel Teater yang diasuh oleh W.S. Rendra. Dari Lawu-lah, Thukul digembleng menjadi penyair ulung.

“Peringatan” merupakan sajak Thukul yang paling fenomenal. Sajak ini menjadi sajak perlawanan yang kerap kali dipakai para demonstran, terutama adalah kalimat penutupnya: hanya satu kata: Lawan!

Namun ada fakta menarik tentang kalimat ikonik itu. Ternyata ide kalimat itu tidak murni dari Thukul, melainkan dari temannya di Teater Jagat, Pardi. Pada sajak Pardi, hanya ada satu kata: Lawan! digunakan untuk sebuah sajak mengenai perjuangan melawan Belanda, oleh Thukul diambil untuk perjuangan buruh.

Sumpah Bambu Runcing

… ini penindasan yang tidak boleh kita biarkan

Tapi jika bambu runcing kita hancur luluh

Terbakar api senjata musuh

Pada kita masih ada satu kata: LAWAN!

Sejak berteater di bawah asuhan Lawu, Thukul yang tadinya memiliki pribadi yang pendiam dan nyali yang kecut, menjelma menjadi penyair yang paling ditakuti rezim. Meski ia cacat wicara, tapi ia dianggap berbahaya.

Thukul dan Lawu berseberangan pendapat ketika Thukul memutuskan terlibat politik praktis. Lawu menganggap bahwa sebagai seniman, semestinya Thukul tidak terlibat politik praktis karena bisa membahayakan keselamatannya ketika itu. Sementara Thukul berpendapat bahwa politik merupakan alat paling cepat untuk mengubah keadaan.

“Lawu, kamu itu tidak berani. Karena itu, kamu dan Teater Jagat sampai kapan pun tidak akan bisa merombak keadaan. Dalam sebuah wawancara, Thukul juga menganggap sastra sebagai salah satu alat perjuangan.

Derma

Menurut World Giving Index, kita adalah negara dengan masyarakat yang paling dermawan. Rasa-rasanya memang benar. Namun rasa-rasanya kok nggak ada efeknya bagi masyarakat.

Bederma itu mudah. Sangat mudah. Saking mudahnya, sekarang banyak orang lebih memilih “menggelontorkan” amalnya di platform-platform semacam Kitabisa, badan zakat yang dikelola oleh swasta maupun pemerintah, atau organisasi penggalang dana lainnya. Apa yang sulit? Bederma kepada sanak-saudara, tetangga kiri-kanan, dan orang-orang membutuhkan yang kita temui di jalan.

Pada suatu Jumat di Jakarta, ketika hendak menunaikan salat Jumat, ada seorang ibu berjilbab dan anak gadis usia sekitar lima tahun. Mereka duduk di dekat pintu masuk masjid. Di depannya ada selembar kertas dilaminating bertuliskan “I am from Syria, We are Family” dan tas dengan ritsleting terbuka berisi uang rupiah berbagai pecahan.

Selesai salat Jumat, si Ibu dan anak lebih mendekat ke masjid dan berbicara dalam bahasa Arab. Tentu banyak yang memberinya uang. Jemaah beramai-ramai menghampiri dan memberinya uang meski tanpa berkata sepatah kata.

Beberapa minggu kemudian, si Ibu itu datang lagi ke masjid dengan hal yang sama.

Lain Jumat, seperti Jumat-Jumat pada umumnya di Jakarta, setelah keluar salat Jumat, beberapa ibu (ada juga yang menggendong anak) menyodorkan botol bekas akua gelas, berharap diisi pecahan rupiah oleh jemaah. Ada beberapa jemaah yang mengisinya. Dan banyak jemaah yang berlomba menghindarinya.

Tanpa kita sadar, kita lebih sering bederma pada yang jauh dan abai pada yang dekat. Padahal barangkali kita tak tahu di mana uang yang telah kita dermakan bermuara. Berbeda bila kita dermakan sendiri kepada orang-orang yang dekat dengan kita dan sampai di tangannya langsung.

Kita terlena mengejar yang jauh, sedang di dekat kita ada yang butuh. Kita lupa, pertama-tama yang harus kita tolong adalah orang-orang yang paling dekat dengan kita: sanak-keluarga, tetangga, warga desa.

Allah begitu dekat dan kita mencarinya begitu jauh. Kata Rumi, “Kita mencari-Nya di sana-sini, padahal sedang menatap-Nya lurus-lurus. Duduk di sisi-Nya kita bertanya, wahai Kekasih, di mana Kekasih?”

Serayu Malam dan Kisah-Kisah Lainnya — Muhamad Wahyudi

Serayu malam dan kisah-kisah lainnya

Serayu Malam dan Kisah-Kisah Lainnya merupakan salah satu karya hasil kerja sama antara Penebit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan Comma Books. Sudah banyak karya yang lahir dari kolaborasi KPG dan Comma Books, di antaranya adalah karya-karya Rain Chudori: Monsoon Tiger and Other stories, Imaginary City, dan Biru dan kisah-kisah lainnya.

Biasanya KPG mengemas kover buku-buku dari Comma Books dengan ciri yang sama cenderung sederhana. Seperti kover di atas, dengan ukuran 11.5 x 17.5 cm, warna putih dan sedikit ilustrasi berwarna hitam, buku ini tampak elegan. Secara fisik juga memudahkan untuk dibawa dan dibaca dalam perjalanan karena ukurannya yang pas di tangan. Seri terbaru kolaborasi KPG dan Comma Books adalah “Pujangga Series”.

Sebelum membaca Serayu Malam dan Kisah-Kisah Lainnya, karya pertama KPG x Comma Books yang saya baca adalah Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya karya Raka Ibrahim. Saya sudah sedikit mengulasnya di blog ini. Berkaca dari penilain saya terhadap Bagaimana Tuhan Menciptakan Cahaya itu, saya agak pesimistis pada karya Serayu Malam ini. Jangan-jangan karakter atau plotnya tidak jauh beda?

Ternyata tidak. Rangkaian cerita dari satu tulisan ke tulisan yang lain sangat menarik untuk diikuti. Meski terdiri dari banyak tulisan, cerita pendek, tulisan-tulisan itu disatukan dalam garis lurus. Meski begitu, tidak masalah bila kita hanya membaca beberapa tulisan. Tulisan-tulisan itu pada akhirnya bermuara pada Kereta Serayu Malam. Di sini, penulis sangat jeli mengatur dan merangkai jalinan hingga begitu menarik. Tidak memaksakan.

Saya menyukai teknik-teknik bercerita yang baru dan beda dari umumnya. Apalagi bila mampu dikemas dengan sangat cantik. Serayu Malam ini adalah salah satunya.

Semudah Itu Arya Membunuh Night King?

Saya ingin sedikit ikut meramaikan review Game of Thrones setelah season 8 episode 3. Episode ini mungkin adalah sebenar-benarnya permulaan dari musim terakhir Game of Thrones. Episode 1 dan 2 bisa dibilang sebagai episode pembuka, yakni perkenalan dan pertemuan para karakter yang sebelumnya pernah punya ikatan emosional.

Sebenarnya saya ingin menonton season 8 ini sekaligus. Namun spoiler di Twitter begitu deras menghiasi timeline. Saya jadi tak sabar dan langsung menonton tiap episode.

Jagat Twitter langsung ramai ketika episode 3 berakhir. Wajar karena ending dalam episode ini, Night King mati di tangan Arya. Karakter Arya memang menjadi idola bagi sebagian besar fans GOT. Setelah Tewasnya Nedd dan Rob, Arya Stark menjadi “tulang punggung” fans GOT untuk membalas dendam ke Cersei atau setidaknya mengembalikan Winterfel damai seperti semula.

Saya agak kecewa dengan episode 3 ini karena menurut saya berakhirnya White Walker begitu cepat. Hanya butuh satu episode untuk scene perang antara manusia vs pasukan Night King. Padahal ekspektasi saya, pertempuran itu akan lebih seru. Setidaknya ada duel satu-lawan-satu antara Night King dan pihak manusia, entah itu Jon atau Arya. Namun itu tidak terjadi. Dan Night King tewas oleh Arya begitu saja. Detail tewasnya Night King juga terlalu cepat, kurang dramatis. Malah lebih dramatis perlawanan Lyanna Mormont yang melawan raksasa Freefolk yang sudah menjadi White Walker.

Beberapa karakter tidak mendapat sorotan peran dalam perang yang bertajuk long night itu. Jon Snow tidak banyak berfaedah. Betul ia dan Denaerys bertempur di udara melawan Night King, tapi itu tidak banyak efeknya dalam peperangan. Bran si Three-Eye-Raven pun tidak jelas apa yang tengah ia lakukan, sedangkan Theon mati-matian bertarung melindunginya sampai tewas di tangan Night King.

Selain itu, secara visual, episode 3 ini juga dikritik terlalu gelap. Memang sih perangnya bertajuk long night, tetapi menurutku tidak nyaman di mata. Saya sendiri ketika menonton, menaikkan pencahayaan layar sampe paling terang dan tetap tidak nyaman.

Dengan kalahnya White Walker di episode 3 ini, kita sudah bisa menebak apa yang akan terjadi pada episode selanjutnya. Yes! For the throne! Pasukan Winterfel yang dipimpin Denaerys–atau Jon Snow–akan melawan Cersei yang sudah siap bersama Euron dan pasukan Golden Company.

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya–Haruki Murakami

lsmnbooks.wordpress.com

Kesan pertama setelah membaca Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya adalah sederhana–selain juga judulnya yang panjang. Agak aneh memang Murakami menggunakan judul yang panjang dalam karyanya. Dalam versi bahasa Inggris, novel ini berjudul Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage. Diterjemahkan dari novel aslinya dalam bahasa Jepang Shikisai o Motanai Tazaki Tsukuru to, Kare no Junrei no Toshi. Ribeka Ota menerjemahkan langsung dari bahasa Jepang ke dalam bahasa indonesia menjadi Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya. Menurut saya judul ini unik dan menarik; elemen nama tokoh Jepang, pemilihan diksi-yang-tidak-biasa, dan komposisinya.

Sederhana. tema cerita ini sungguh sederhana. Namun karena yang menulis adalah Murakami, tema yang sederhana ini mampu dikemas menjadi cerita yang hidup. Ketika membaca blurb buku ini, pembaca bisa langsung melihat konflik apa yang akan dialami tokoh utama: Tsukuru.

Novel ini sama sederhananya dengan Dengarlah Nyanyian Angin. Bedanya, novel ini lebih intens menceritakan hubungan tokoh utama dengan tokoh lainnya. Urut dan rapi.

Murakami tidak banyak mengeksploitasi seks, maupun psikologi tokoh. Murakami lebih mengarahkan cerita ke teka-teki dan pertanyaan-pertanyaan biasa. Praktis, Murakami fokus pada tokoh utama: Tsukuru. Tsukuru ditampilkan sejak awal hingga akhir, tentang pertemanan, ingatan, penyesalan, dan bertahan hidup.

“Meskipun ingatan dapat dengan lihai disembunyikan atau dengan rapi ditenggelamkan sampai ke dasar, sejarah yang diciptakannya tidak dapat dihapus.”

Mengunjungi BBW Book Sale: Hari Pertama dan Akses ke Sana

Big Bad Wolf Book Sale 2019, Jakarta 1-11 Maret.

Ini bisa disebut tulisan perjalanan pertama saya. Perjalanan dalam hal ini bukan berarti vakansi ke luar kota atau luar pulau atau bahkan luar negeri. Bukan. Cukup saya definisikan secara sederhana: keluar kandang (kos/kontrakan/rumah). Demikian paragraf pembuka ini.

Tahun 2019 ini merupakan tepat satu dekade Big Bad Wolf (BBW) Book Sale diadakan di Indonesia. Tahun ini tidak hanya diadakan di Jakarta, tetapi juga di enam kota lainnya di Indonesia.

Keenam kota itu adalah sebagai berikut.

  • Bandung, 28 Juni-8 Juli
  • Jogja, 2-12 Agustus
  • Balikpapan, 30 Agustus-9 September
  • Surabaya, 26 September-7 Oktober
  • Makassar 1-11 November
  • Medan 29 November-9 Desember

Sementara itu, di Jakarta diadakan pada 1 Maret lalu hingga 11 Maret nanti. Adapun event berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Serpong, Tangerang Selatan.

Saya mengunjungi BBW pada hari pertama pembukaan, 1 Maret. Kebetulan itu hari Sabtu, hari libur kerja. Sebenarnya, ada ticket pass yang dijual kepada mereka yang ingin mencari di awal buku-buku buruannya, yakni sebelum pameran dibuka untuk umum. Jadi mereka yang memiliki ticket pass boleh masuk ke ruang pameran sebelum hari pertama pameran.

Saya berangkat dari stasiun Palmerah menggunakan KRL, lalu turun di stasiun Cisauk. Sebenarnya kebanyakan orang yang hendak pergi ke BSD (ICE) akan turun di stasiun Rawa Buntu. Selain karena lebih mudah akses untuk transportasi daring, juga tidak terimbas macet. Stasiun Cisauk terkenal jalannya yang macet dari/arah stasiun walaupun jarak ke AEON mall atau ICE BSD lebih dekat. Namun karena dorongan ingin melihat atau merasakan stasiun baru–belakangan stasiun Cisauk ramai diperbincangkan karena bangun barunya yang keren dan terkoneksi dengan Pasar Modern–saya dan ketiga teman saya memutuskan untuk turun di stasiun Cisauk.

Di stasiun Cisauk, kami bertanya arah yang bisa membawa kami memesan transportasi daring. Lalu kami diarahkan ke Pasar Modern. Kami melewati lorong jembatan layang yang baru dibangun. Jembatan itu menghubungkan stasiun dengan Pasar Modern. Masih belum ramai memang, tapi terlihat sangat nyaman. Sebelum diarahkan ke Pasar Modern, mulanya kami minta dijemput di lobby utama stasiun Cisauk, tapi driver minta kami menunggu di Pasar Modern saja karena jalan ke lobby stasiun sangat macet. Jadilah kami menyusuri jembatan layang itu. Tidak jauh, mungkin hanya sekitar 150 meter.

Setelah bertemu driver dan naik, kami bercakap-cakap seputar tempat baru itu. Tidak lama kami sampai ke lokasi. Sangat dekat. Dan tidak macet. Sebab, jalan yang kami lewati memang tidak dari/menuju stasiun Cisauk, tetapi Pasar Modern. Hanya perlu sedikit jalan melewati jembatan layang, terbebaslah kemacetan. Tarif transportasi daring hanya sekitar 10ribu untuk sekali jalan.

Lantaran hari pertama dibuka dan pas akhir pekan, tentu saja ramai luar biasa. Bila Anda sudah pernah mengunjungi ICE BSD, tentu tahu betapa luasnya tiap hall. BBW menempati hall 7 hingga 10. Ketika masuk pukul empat sore, saya harus antre dari hall 10 ke hall 7 (pintu masuk). Ketika akan membayar ke kasih pukul 18.30, saya juga harus antre dari hall 7 hingga hall 10 (pintu keluar). Adapun tempat salat disedikan di hall 5.

Demikian tulisan debut perjalanan dari saya. Sampai jumpa di lain tulisan.

Kami dengan muka kusut dalam perjalanan pulang.

Vegetarian–Han Kang

British Council Literature dalam blurb buku ini menggambarkan bahwa Vegetarian adalah gabungan indah antara kekerasan dan kepolosan.

Sejak awal, Vegetarian sudah mengajak pembaca untuk masuk ke dalam inti cerita, konflik, dan kerasnya hidup yang dialami oleh para tokoh, khususnya tokoh utama: Young Hye. Young Hye menjadi seorang vegetarian bukan karena ingin hidup sehat atau karena rasa penghargaan terhadap makhluk hidup, tetapi karena mimpi. Dasar ini yang mampu dieksplorasi dengan baik oleh Han Kang. Ia tak henti-hentinya membuat cerita intens penuh ketegangan.

Meski novel ini berjudul Vegetarian, ia sebenarnya tidak banyak mengangkat vegetarianisme, seperti kata Eka Kurniawan. “Lebih serupa novel yang mencekam, tapi mengasyikkan,” tulisnya.

Obsesi Young Hye yang dibentuk oleh mimpi-mimpinya merepotkan banyak orang; suaminya, orang tuanya, dan saudaranya. Hubungan antartokoh memunculkan banyak kejutan. Hubungan istri-suami, anak-orang tua, adik-kakak ditampilkan dengan telaten oleh Han Kang.

Ada satu adegan yang menyentuh, yang menandai kerasnya hidup tokoh-tokoh yang ditampilkan Han Kang.

“Adakah Ayah di rumah?” Ji Woo sering bertanya seperti itu sejak suaminya pergi. Namun, pertanyaan itu sudah ditanyakan setiap pagi oleh anak itu, bahkan sebelum suaminya pergi.

Ia akan menjawab pendek dengan kata tidak ada lalu menambahkan tanpa suara, “Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada kamu dan ibu. Akan begitu selamanya.”

Hidup Itu Aneh

Seteleh membaca Vegetarian, pikiran saya kembali merenungi sesuatu. Konflik yang disajikan dalam Vegetarian amat berat. Saya memaklumi bila tokoh-tokoh di dalamnya amat frustasi dengan apa yang terjadi kepada mereka. Saya kemudian menarik ke dalam kehidupan nyata yang saya alami, yang kita alami.

Pertanyaan muncul: sejauh mana manusia bisa bertahan dalam menghadapi masalah? Apa parameter suatu masalah dikatakan mencapai batas? Apakah kematian (bunuh diri) adalah cara terakhir mengakhiri masalah?

Dalam Vegetarian, tidak sedikit pun Han Kang memasukkan unsur agama, bahkan sekadar untuk berpasrah. Praktis segala konflik hanya berlatar pada peliknya hidup, bekerja, merawat anak, dan cara-cara bertahan hidup selama mungkin. Ini poin yang digarisbawahi manakala ingin berkaca ke dalam dunia nyata.

Bukankah Tuhan tidak akan menguji seseorang di atas batas kemampuannya? Bagaimana kita tahu batas kemampuan yang kita miliki? Hemat saya, ini menyiratkan bahwa batas kemampuan manusia berbeda-beda. Demikian karena ujian yang diberikan itu berbeda-beda. Saya cenderung meyakini bahwa manusia sendirilah yang membuat batas kemampuannya. Seperti sabar, kesabaran hanya datang kepada orang-orang yang menyabarkan diri. Jadi, sabar itu tidak terbatas. Manusialah yang membatasinya. Itu yang saya anut.

Tak jarang ketika menghadapi masalah, bunuh diri adalah solusi terakhir–seperti Khilafah. Lalu apakah dengan mengakhiri hidup, masalah selesai? Sepertinya tidak. Kita percaya bahwa ada dunia lagi setelah dunia yang kita singgahi saat ini. Ketika kita lari melewati jalan pintas (bunuh diri), kita akan sampai di dunia tersebut. Dan, apakah kita menjamin bahwa masalah yang kita hadapi di dunia ini tidak akan dibawa ke dunia setelahnya?

Pada akhirnya, nyatanya kita masih hidup. Hidup dengan berbagai masalah yang mengiringi kita. Kita hidup berdampingan dengannya. Ia hadir, lalu selesai, lalu ada lagi, dan selesai, akan begitu seterusnya. Tanpa kita sadari kita telah menjadi manusia yang kuat menghadapi entah berapa masalah yang telah mampir ke hidup kita. Kita bertahan, kita sintas.

“Hidup itu aneh, pikirnya setelah selesai tertawa. Manusia tetap makan dan minum, buang air, mandi, serta terus melanjutkan hidup mereka apa pun yang terjadi meski hal sangat tragis telah menimpa mereka.”